Jeritan Ibu 3 Anak di Kertapati: Saat Lapar Jadi Teman Sehari-hari, Harapan Tinggal Doa
NADIRANEWS.COM//PALEMBANG – Di balik hiruk-pikuk Kota Palembang, ada kisah pilu yang nyaris tak terdengar. Lia (37), warga RT 45 Kelurahan Kemang Agung, Kecamatan Kertapati, menjalani hidup dalam bayang-bayang kemiskinan yang kian menghimpit.
Setiap hari bukan soal mimpi, tapi soal bertahan hidup.
Bersama tiga anaknya yang masih kecil, Lia harus menghadapi kenyataan pahit: dapur tak selalu mengepul. Suaminya, satu-satunya tulang punggung keluarga, hanya bekerja sebagai pengamen dengan penghasilan yang tak menentu—kadang Rp50 ribu, namun lebih sering pulang tanpa membawa apa-apa.
“Kalau tidak dapat uang, kami hanya bisa menahan lapar,” ucap Lia lirih, Jumat (10/04), dengan mata yang tak mampu menyembunyikan kelelahan hidup.
Kondisi semakin memilukan ketika kebutuhan mendesak memaksa mereka mengambil langkah terakhir. Tabung gas yang seharusnya menjadi penunjang hidup, justru harus digadaikan demi membeli beras. Sebuah potret nyata betapa kerasnya kehidupan yang mereka jalani.
Tak hanya itu, cobaan datang bertubi-tubi. Suami Lia mengalami kebutaan pada sebelah mata—membatasi ruang geraknya dalam mencari nafkah. Harapan untuk hidup layak pun semakin terasa jauh.
Kini, keluarga ini tinggal di sebuah kontrakan sederhana di bawah rumah orang lain. Dengan biaya sewa Rp500 ribu per bulan, angka itu terasa seperti beban besar yang menghantui setiap waktu.
Tak ada kemewahan. Tak ada jaminan. Yang ada hanya perjuangan dan doa.
Di tengah keputusasaan, Lia masih menyimpan secercah harapan. Ia berharap ada tangan-tangan dermawan yang tergerak, membantu mereka keluar dari jerat kesulitan.
“Kami hanya ingin anak-anak bisa makan… itu saja,” ungkapnya penuh harap.
Kisah Lia adalah cermin nyata bahwa di sudut-sudut kota, masih banyak warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Pertanyaannya, sampai kapan mereka harus berjuang sendiri?
Saatnya kita peduli. Karena bagi mereka, bantuan kecil bisa berarti kehidupan.
(Editor Jhony)






